TEORI-TEORI
BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
Berdasarkan perbedaan sudut pandang tentang proses belajar, maka
teori belajar dapat dibagi menjadi beberapa kelompok yaitu teori behaviorisme,
teori kognitivisme, teori belajar berdasarkan psikologi sosial, dan teori
belajar Gagne.
A. Teori
Behaviorisme
Menurut teori ini manusia sangat dipengaruhi oleh kejadian-kejadian di
dalam lingkungannya, yang akan memberikan pengalaman-pengalaman terntentu
kepadanya. Belajar di sini merupakan perubahan tingkahlaku yang terjadi
berdasarkan paradigma S-R (Stimulus-Respon), yaitu suatu proses yang memberikan
respon tertentu terhadap yang datang dari luar.
Prinsip utama teori ini ialah rangsangan dan timbal balik serta
peneguhan. Tumpuan objektif penggunaan ialah hanya pada peringkat kepahaman dan
pengetahuan. Teori ini akan berpegang kepada anggapan bahawa pembelajaran
meliputi tanggungjawab guru, dan diawasi sepenuhnya olehsistem
pengajaran. Teori ini juga berlandaskan kepada anggapan bahawa pelajar akan
mengekalkan sesuatu tindakan jika peneguhan yang bersesuaian diberikan
kepadanya. Sebagai contoh, apabila seseorang pelajar diberikan ganjaran setelah
menunjukkan sesuatu timbal balik, ia akan mengulangi timbal balik
tersebut setiap kali rangsangan yang serupa ditemui (http://Saungwali,wordpress.com/2007/05/23/teori dan strategi pembelajaran). Proses S-R ini terdiri dari beberapa
unsur, yaitu dorongan (drive), rangsangan (stimulan), respons,
dan penguatan (reinforcement). Proses belajar menurut behaviorisme lebih
dianggap sebagai suatu proses yang bersifat mekanistik dan otometik tanpa
membicarakan apa yang terjadi selama itu di dalam diri mahasiswa yang belajar
(Galloway, 1976).
Thomdike merupakan orang yang pertama kali menerangkan hubungan S-R ini.
Beberapa macam teori behaviorisme yang terkenal adalah :
1.
Classical Conditioning (Pavlov)
Teori ini didasarkan atas reaksi sistem tak terkontrol di dalam diri
seseorang dan reaksi emosional yang dikontrol oleh sistem urat syaraf otonom
serta gerak refleks setelah menerima stimulus dari luar. Stimulus tidak
terkondisi (US) merupakan stimulus yang secara biologis dapat menyebabkan
adanya respon dalam bentuk refleks (UR). Proses ini disebut extinion,
apabila diberikan US respons CR yang hilang dapat muncul kembali.
Dengan stimulus tanpa kondisi (US) diberikan suatu stimulus lain yang
netral maka secara bersama kedua stimulus tersebut akan menghilangkan respon
yang merupakan reflek (UR), dan akan timbul respon baru yang diharapkan (CR).
Stimulus netral yang diberikan bersama stimulus pertama ini disebut stimulus
terkondisi yang memang diharapkan, maka dapat dikatakan bahwa seseorang telah
belajar.
Secara singkat jalannya percobaan adalah sebagai berikut :
a)
Kepada anjing diperlihatkan makanan (anjing dalam keadaan lapar). Dalam
percobaan anjing mengeluarkan air liur, jadi ada reaksi. Makanan disebut
stimulus tak bersyarat (Unconditioning Stimulus) dan mengeluarkan air liur
disebut reaksi tak bersyarat (Unconditioning Respon).
b)
Kepada anjing diperlihatkan sinar (anjing tetap dalam keadaan lapar). Ternyata
tidak terlihat air liur. Pavlov ingin mencoba agar anjing dibuat bereaksi
terhadap sinar yang diperlihatkan kepadanya. Caranya ialah dengan memberikan
persyaratan berupa makanan yang secara alami dapat menimbulkan reaksi. Dalam
hal ini belum terjadi peristiwa ‘belajar’ pada anjing.
c)
Sinar disorotkan, beberapa detik, kemudian makanan diperlihatkan. Pada
percobaan terlihat mula-mula air liur tidak keluar, tetapi setelah melihat
makanan, baru anjing bereaksi. Dalam hal
ini belum terjadi peristiwa ‘belajar’ pada anjing.
d)
Pada pon yang ketiga, diulang dengan jarak pemberian makanan yang bervariasi.
Akhirnya pada frekuensi tertentu pada jarak waktu pemberian makanan
tertentu, Pavlov berhasil membuat anjing bereaksi terhadap sinar tanpa diikuti
pemberian makanan. Dengan kata lain, disebut bahwa
stimulus (sinar) telah disyarati dengan makanan. Oleh karena itu sinar disebut
stimulus beryarat dan peristiwa keluarnya air liur karena melihat sinar disebut
respon bersyarat.
2.
Operant Conditioning
Teori Skinner ini menyatakan
bahwa setiap kali memperoleh stimulus maka seseorang akan memberikan respon
berdasarkan hubungan S-R. Respons yang benar perlu diberi penguatan
(reinforcement). Menurut Hill (1980) pemberian penguatan terhadap respons dapat
diberikan secara kontinu (continuous reinforcement), dan selang seling (intermittment
reinformcement).
Operant Conditioning menurut B.F. Skinner
Dari
eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap
burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :
a. Law of operant conditining yaitu jika
timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan perilaku
tersebut akan meningkat.
b. Law of operant extinction yaitu jika
timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning
itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan
menurun bahkan musnah. (asnaldi.2009).
Cara yang dipakai di dalam intermittent reinforcement ini dapat
bermacam-macam dan dikelompokan menjadi ratio apabila pemberian penguatan
tergantung pada jumlah respon yang diberikan) dan interval (apabila
pemberian penguatan tergantung pada waktu).
Empat macam pemberian penguatan yang tidak bersifat kontinu atau yang
dikelompokkan ke dalam cara pemberian penguatan intermittent, yaitu berdasarkan
jadwal (Leahey & Harris, 1985) :
a)
Dengan perbandingan tetap (fixced ratio) : pemberian penguatan tergantung
pada berapa kali individu memberikan respons.
b)
Dengan perbandingan tidak tetap (bariable ratio) : disini tetap jumlah respons
yang menentukan pemberian penguatan, tetapi perbandingan berubah-ubah dari
penguatan ke penguatan berikutnya.
c)
Dengan interval tetap (fixced interval) : pemberian penguatan dengan
jarak waktu tertentu.
d)
Dengan interval tidak tetap (variable interval) : pemberian penguatan
dengan jarak waktu antara yang tidak tetap.
Selanjutnya menurut Leahey
& Harris, ratiolah yang dapat memberikan hasil lebih baik dibanding dengan
cara dengan interval.
Perbedaan antara classical dan operant conditioning terletak
pada hal-hal tersebut dibawah ini :
a)
Respons
Menurut Pavlov (classical conditioning) respon di kontrol oleh pihak
luar, pihak inilah yang menentukan kapan dan apa yang akan diberikan kepada
stimulus. Peranan orang yang belajar bersifat pasif karena untuk mengadakan
respons perlu adanya suatu stimulus tertentu. Sebaliknya Skinner mengatakan
bahwa pihak luar/ pengajarlah yang harus menanti adanya respons yang
diharapkan/ benar.
b)
Penguatan
Pavlov mengatakan bahwa
stimulus yang tidak terkontrol (unconditioned stimulus) mempunyai hubungan
dengan penguatan. Sebaliknya menurut Skinner responslah yang merupakan sumber
penguatan. Adanya respon menyebabkan sesorang memperoleh penguatan, dan hal ini
menyebabkan respons tersebut cenderung untuk diulang-ulang.
Prinsip-prinsip teori behaviorisme yang banyak dipakai di dunia pendidikan
ialah (Hartley & Davies, 1978) :
a)
Proses belajar dapat terjadi dengan baik apabila mahasiswa ikut berpartisipasi
secara aktif di dalamnya.
b)
Materi pelajaran dibentuk dalam bentuk unit-unit kecil dan diatur berdasarkan
urutan yang logis.
c)
Tiap-tiap respons perlu diberi umpan balik secara langsung.
d)
Setiap kali mahasiswa dapat memberikan respon yang benar maka ia perlu diberi
penguatan.
Contoh terkenal penerapan prisip behaviorisme di dunia pendidikan adalah
pengajaran terprogram (programmed learning). Contoh lain penerapan
behaviorisme di dunia pendidikan adalah prinsip belajar tuntas (mastery
learning), yang menyatakan bahwa semua orang dapat belajar dengan baik
apabila diberi waktu cukup dan pengajaran dirancang dengan baik pula.
3. Social
Learning menurut Albert Bandura
Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning
adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan
teori-teori belajar lainnya. Berbeda dengan penganut Behaviorisme
lainnya, Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata
refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang
timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu
itu sendiri. Prinsip dasar belajar menurut teori ini, bahwa yang dipelajari
individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation)
dan penyajian contoh perilaku (modeling). Teori ini juga masih memandang
pentingnya conditioning. Melalui pemberian reward dan punishment,
seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana
yang perlu dilakukan. (asnaldi.2009).
B. Teori Kognitivisme
Menurut Galloway (1976) belajar merupakan suatu proses internal yang
mencakup ingatan, retensi, pengolahan informasi, emosi, dan faktor-faktor lain.
Proses belajar disini antara lain mencakup pengaturan stimulasi yang diterima
dan menyesuaikannya dengan struktur kognitif yang terbentuk di dalam pikiran
seseorang berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya.
Teori ini berkaitan dengan ingatan yaitu ingatan jangka panjang dan ingatan
jangka pendek. Salah satu teori kognitif ialah pemprosesan masalah
yang digunakan dalam pengajaran pembelajaran komputer. Teori ini
juga menyediakan pembelajaran aktif dimana pelajar bertindak secara
aktif memperoleh, menstruktur semula dan mengkaji pengetahuan untuk
menjadikannya bermakna. Pelajar memerlukan pemindahan pembelajaran
dan pengetahuan. Teori ini lebih menekan kepada pengetahuan kini dan
pengetahuan yang lepas. Untuk membantu pelajar memperoleh penyelesaian,
hendaklah dalam bentuk simbol dan lain-lain agar penyelesaian itu lebih teratur
dan mudah diperoleh. Alessi & Trollip (1991) mempercayai bahwa
beberapa bidang dalam teori kognitif sangat penting dalam mereka bentuk bahan pengajaran
terancang berasaskan komputer. Bidang-bidang tersebut ialah pengamatan
dan penanggapan , ingatan , kepahaman pembelajaran secara aktif , motivasi,
pemindahan pembelajaran , dan perbedaan individu (http://Saungwali.wordpress.com/2007/05/23/teori dan strategi pengajaran).
Beberapa teori belajar yang didasarkan atas kognitivisme dan yang
seringkali dipakai didalam proses belajar mengajar ialah:
1. Teori Perkembangan Piaget
Menurut Piaget perkembangan
kognitif merupakan suatu proses genetik, artinya proses yang didasarkan atas
mekanisme biologis perkembangan sistem syaraf. Dengan makin bertambahnya umur
seseorang maka makin komplekslah susunan sel syarafnya dan makin meningkat pula
kemampuannya (Travers, 1976).
Menurut Piaget proses belajar seseorang akan mengikuti pola dan tahap-tahap
perkembangan tertentu sesuai dengan umurnya. Penjenjangan ini bersifat
hierarkhis, artinya harus dilalui berdasarkan urutan tertentu dan orang tidak
dapat belajar sesuat yang berada diluar tahap kognitifnya.
a)
Sensomotorik (0-2 tahun) yang bersifat ekstrenal,
b)
Preoperasional (2-6 tahun),
c)
Operasional konkrit (6/7-11/12 tahun) dan
d)
Jenjang formal (11/12-18 tahun) yang bersifat internal.
Jadi mahasiswa yang telah berumur 17-18 tahun keatas dengan demikian telah
mencapai jenjang kognitif formal sehingga mereka mampu untuk berpikir
abstrak/megadakan penalaran.
Paiget berpendapat bahwa asas pada semua pembelajaran ialah aktivitas anak-anak
itu sendiri. Beliau juga menegaskan kepentingan interaksi ide-ide antara
anak-anak tersebut dengan kawan-kawan sebayanya penting untuk perkembangan
mental (www.geocities.com/pluto_stewart/artikel_ilmiah_1.htm).
Worell & Stilwell juga menunjuk kelemahan-kelemahan pada
teori yang diajukan Piaget ini, yaitu :
a)
Dengan adanya teori Piaget, belajar individual tidak dapat dilaksanakan karena
untuk belajar mandiri diperlukan kemampuan kognitif yang lengkap dan kompleks
yang tidak dapat diuraikan dalam jenjang-jenjang.
b)
Hasil-hasil penelitian menunjukan bahwa ketrampilan-ketrampilan kognitif
tingkat tinggi dapat dicapai anak-anak yang belum mencapai umur yang sesuai
dengan janjang-jenjang di teori Piaget.
c)
Sebaliknya, hasil-hasil penelitian juga menunjukan bahwa banyak orang yang
tidak mencapai tahap operasi formal tanpa adanya manipulasi yang bersifat
konkrit seperti pemakaian gambar, demonstrasi, pembagian model dan semacam itu.
d)
Ketrampilan ternyata lebih baik dipelajari melalui urutan, bukan berdasarkan
tahap umur.
2. Teori Kognitif Bruner
Bruner menekankan pada adanya
pengaruh kebudayaan terhadap tingkah laku seseorang. Kalau Piaget menyatakan
bahwa perkembangan kognitif menyebabkan perkembangan bahasa seseorang, sebaliknya
Bruner menyatakan bahwa perkembangan bahasa besar pengaruhnya terhadap
perkembangan kognitif (Hilgard & Bower, 1981).
Menurut Bruner perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap
yang ditentukan oleh, caranya melihat lingkungan. Tahap pertama adalah tahap
enaktif, dimana individu melakukan aktivitas-aktivitas dalam usahanya
memahami lingkungan. Tahap kedua
adalah tahap ikonik dimana ia melihat dunia melalui gambar-gambar dan
visualisasi verbal. Tahap terakhir adalah tahap simbolik, dimana ia
mempunyai gagasan-gagasan abstrak yang banyak dipengaruhi bahasa dan logika.
Penerapan teori Bruner ini di dunia pendidikan disebut kurikulum spiral,
di mana suatu subjek diberikan mulai dari sekolah dasar sampai ke perguruan
tinggi dengan menyajikan materi yang sama tetapi tingkat kesukarannya berbeda.
Bruner percaya bahwa anak-anak lebih dimotivasikan oleh masalah yang menarik
yang tidak mampu diselesaikan oleh mereka dengan mudah seandainya tidak
menguasai isi kandungan mata pelajaran dan kemahiran tertentu
(www.geocities.com/pluto_stewart/artikel_ilmiah_1.htm).
Gage & Berliner (1979) menyimpulkan beberapa prinsip Bruner, yaitu :
a)
Makin tinggi tingkat perkembangan intelektual, makin meningkat pula
ketidaktergantungan individu terhadap stimulus dan diberikan.
b)
Pertumbuhan seseorang tergantung pada perkembangan kemampuan internal untuk
menyimpan dan memproses informasi. Data yang diterima orang dari luar perlu
diolah secara mental.
c)
Perkembangan intelektual meliputi peningkatan kemampuan untuk mengutarakan
pendapat dan gagasan melalui simbol.
d)
Untuk mengembangkan kognitif seseorang diperlukan interaksi yang sistematik antara
pengajar dan yang diajar.
e)
Perkembangan kognitif meningkatkan kemampuan seseorang untuk memikirkan
beberapa alternatif secara serentak, memberikan perhatian kepada beberapa
stimuli dan situasi sekaligus, serta melakukan kegiatan-kegiatan.
3. Teori Belajar Bermakna Ausubel
Belajar seharusnya merupakan apa yang disebut asimiliasi bermakna. Materi
yang dipelajari diasimilasikan dan dihubungan dengan pengetahuan yang telah
dipunyai sebelumnya. Untuk itu diperlukan dua persyarata yaitu : (a) materi
yang secara potensial bermakna, dan dipilih serta diatur oleh dosen dan harus
sesuai dengan tingkat perkembangan serta pengalaman masa lalu mahasiswa, dan
(b) suatu situasi belajar yang bermakna. Advance Organizers ini
merupakan kerangka (Entiwistle, 1981) dalam bentuk dan abstraksi atau ringkasan
atau konsep-konsep dasar dari apa yang dipelajari dan hubungannya dengan apa
yang telah ada didalam struktur kognitif mahasiswa.
Dari dalam proses belajar mengajar dosen dapat menerapkan prisip-prinsip teori
belajar bermakna dari Ausubel melalui langkah-langkah sebagai berikut :
a)
Mengukur kesiapan mahasiswa (minat, kemampuan, struktur kognitif) melalui tes
awal, interview, review, pertanyaan dan lain-lain teknik.
b)
Memilih materi dan mengaturnya dalam bentuk penyajian konsep kunci-kunci, mulai
dengan contoh-contoh konkrit, kontraversial atau yang sifatnya aneh/tidak
biasa.
c)
Mengidentifikasi prinsip-prinsip yang harus dikuasai dari materi baru.
d)
Menyajikan suatu pandangan secara menyeluruh tentang apa yang harus dipelajari.
e)
Memakai advance organizers.
f)
Mengejar mahasiswa memahami konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang ada, dengan
memberikan fokus pada hubungan-hubungan yang ada.
Disini ternyata tampak perbedaan antara teori Bruner dengan teori Ausubel
yaitu Bruner lebih menekankan adanya penemuan (discovery), sedang Ausubel lebih
menekankan pada persepsi, yaitu adanya materi yang disajikan dan dapat
diinternalisasi oleh mahasiswa (Reilley & Lewis, 1983).
Disampaing itu, terdapat pula perbedaan antara teori behaviorisme dan
kognitivisme, yaitu :
a)
Proses belajar menurut berhaviorisme adalah suatu mekanisme yang periferik dan
terletak jauh dari otak, sedangkan menurut kognitivisme adalah proses terjadi
secara internal dalam otak dan meliputi ingatan dan pikiran.
b)
Hasil belajar pada behaviorisme merupakan suatu kebiasaan dan ditekankan pada
adanya respon yang lancar, teori kognitivisme menganggap hasil belajar sebagai
suatau kognitif dengan menakankan pada pengetahuan faktual.
c)
Menurut behaviorisme belajar adalah proses trial and error dan adanya
unsur-unsur yang sama antara masalah yang sekarang dihadapi dengan apa yang
pernah dijumpai sebelumnya. Kognitivisme menekankan adanya pemahaman tentang
yang dihadapi sekarang dengan dengan yang telah dijumpai sebelumnya. Masalah
disini harus berhubungan dengan apa yang pernah dipecahkan sebelumnya.
C. Teori Belajar Berdasarkan Psikologi Sosial
Di dalam proses belajar mengajar sekarang banyak dipakai prinsip-prinsip
teori psikologi lain, yaitu teori kepribadian dan psikologi sosial (Hartley
& Davies, 1978).
Menurut teori ini proses belajar jarang sekali merupakan proses yang
terjadi dalam keadaan menyendiri, tetapi melalui interaksi-interaksi. Interaksi tersebut dapat :
1. Searah, yaitu jika adanya stimulasi
dari luar menyebabkan timbulnya respons.
2. Dua arah, yaitu individu yang
belajar dengan lingkungannya, atau sebaliknya, interaksi reciprocal yaitu
apabila beberapa faktor yang mempunyai saling ketergantungan, seperti
faktor-faktor pribadi, dan faktor-faktor lingkungan saling berinteraksi dan
menyebabkan adanya perubahan tingkah laku (Bigge, 1982).
D. Teori Belajar Gagne
Gagne berpendapat bahwa di dalam proses belajar terdapat dua fenomena,
yaitu ketrampilan intelektual yang meningkat sejalan dengan meningkatnya umur
serta latihan yang diperolah individu, dan belajar akan lebih cepat apabila
strategi kognitif dapat dipakai dalam memecahkan masalah secara lebih efisien.
Gagne mempunyai hierarki pembelajaran. Antaranya ialah pembelajaran melalui
isyarat, pembelajaran timbal balik rangsangan, pembelajaran melalui urutan,
pembelajaran melalui pembedaan dan sebagainya. Menurut Gagne, peringkat yang
tertinggi dalam pembelajaran ialah penyelesaian masalah. Pada peringkat ini,
pelajar menggunakan konsep dan prinsip-prinsip matematik yang telah dipelajari
untuk menyelesaikan masalah yang belum pernah dialami (www.geocities.com/pluto_stewart/artikel_ilmiah_1.htm).
Gagne (1985) menyebutkan adanya lima macam hasil belajar, yaitu :
1. Ketrampilan intelektual/pengetahuan
prosedural yang menckup belajar diskriminasi, konsep, prinsip dan pemecahan
masalah, yang kesemuanya diperoleh melalui materi yang disajikan di sekolah.
2. Strategi kognitif, yaitu kemampuan untuk
memecahkan masalah-masalah baru dengan jalan mengatur proses internal
masing-masing individu dalam memperhatikan, belajar, mengingat dan berpikir.
3. Informasi verbal, yaitu kemampuan untuk
mendiskripsikan sesuatu dengan kata-kata dengan jalan mengatur
informasi-informasi yang relevan.
4. Ketrampilan motorik, yaitu kemampuan untuk
melaksanakan dan mengkoordinasikan gerakan-gerakan yang berhubungan dengan
otot.
5. Sikap, yaitu suatu kemampuan internal yang
mempengaruhi tingkahlaku seseorang, dan didasari oleh emosi,
kepercayaan-kepercayaan serta faktor intelektual.
E. Teori Instruksional
Teori instruksional tidak menjelaskan bagaimana suatu proses belajar
terjadi, tetapi lebih merupakan penerapan prinsip-prinsip teori belajar, teori
tingkah laku dan prinsip-prinsip pengajar dalam usaha mencapai tujuan-tujuan
belajar.
Tekanan utama teori instruksional adalah pada prosedur-prosedur yang telah
terbukti berhasil serta konsisten dengan konsep-konsep sosial, masyarakat, dan
pendidikan. Tema utama teori instruksional ialah bahwa (Gagne, 1985) :
1. Belajar merupakan suatu kumpulan proses
yang bersifat individual, yang merubah stimuli yang datang dari lingkungan
seseorang kedalam sejumlah informasi yang selnjutnya dapat menyebabkan adanya
hasil belajar dalam bentuk ingatan jangka panjang. Hasil belajar ini memberikan
kemampuan kepadanya untuk melakukan berbagai penampilan.
2. Kemampuan yang merupakan hasil belajar
dapat dikategorikan sebagai bersifat praktis, dan teoritis.
3. Kejadian-kejadian di dalam pengajaran
yang mempengaruhi proses belajar dapat dikelompokkan ke dalam kategori-ketegori
umum, tanpa memperhatikan hasil belajar yang diharapkan. Namun untuk membentuk
setiap hasil belajar diperlukan adanya kejadian-kejadian khusus.
Berdasarkan teori-teori psikologi dan teori belajar yang mendasarinya maka
teori instruksional dapat dibagi dalam lima kelompok, yaitu (Snelbecker, 1974)
:
1.
Pendekatan Modifiksi Tingkah Laku.
Teori instruksional ini didasari atas pendekatan modifikasi tingkahlaku,
terutama dari Skinner, yang berpendapat bahwa apabila binatang saja dapat
diajar untuk melakukan tugas-tugas yang sifatnya kompleks, maka orangpun akan
dapat memanfaatkan prinsip-prinsip modifikasi tingkahlaku yang diterapkan.
2.
Teori Instruksional Konstruksi Kognitif
Menurut Bruner teori instruksional yang baik adalah pengalaman belajar
melalui penemuan (discovery). Serta untuk mengajar sesuatu tidak perlu
menunggu sehingga kanak-kanak mancapai tahap perkembangan tertentu. Aspek
pentingnya ialah bahan pengajaran harus disediakan dengan baik. Dengan lain
perkataan perkembangan kognitif seseorang dapat ditingkatkan dengan cara
mengatur bahan yang akan dipelajari dan menyajikannya sesuai dengan tingkat
perkembangannya. Penerapan teori Bruner yang terkenal dalam dunia pendidikan
adalah kurikulum spiral di mana bahan pelajaran yang sama dapat diberikan mulai
dari tahap rendah sehingga ke tahap menengah, disesuaikan dengan tingkat perkembangan
kognitif mereka. Cara belajar yang terbaik menurut Bruner ini adalah dengan
memahami konsep, makna dan hubungan melalui proses intuitif dan seterusnya
menghasilkan suatu kesimpulan (www.geocities.com/pluto_stewart/artikel_ilmiah_1.htm). Teori ini mencakup empat prinsip utama. Pertama, bahwa untuk
memungkinkan adanya proses belajar diperlukan motivasi dari pihak mahasiswa. Kedua,
perhatikan perlu diberikan kepada pengaturan atau struktur bahan yang akan
dipelajari. Ketiga, pengalaman-pengalaman belajar perlu diurutkan dengan
baik, dengan memperhatikan jenjang perkembangan mahasiswa. Keempat, ia
juga menyatakan perlu adanya pujian atau hukuman.
3.
Teori Instruksional Berdasarkan Prinsip-Prinsip Belajar
Beberapa orang berpendapat bahwa prinsip-prinsip teori instruksional dapat
di formulasikan dengan lebih baik diterjemahkan dari hasil-hasil penelitian
tentang belajar dan dapat diterapkan untuk pendidikan sehari-hari di dalam
praktek.
Bugelski seperti dikutip oleh Snelbecker mengidentifikasi beberapa puluh
prinsip yang dapat digunakan bagi para pendidik. Informasi tersebut kemudian
disingkat menjadi empat prinsip dasar, yaitu :
a) Untuk belajar mahasiswa harus
mempunyai pehatian dan responsif terhadap materi yang dipelajari.
b) Semua proses belajar memerlukan
waktu.
c) Di dalam diri seseorang yang
sedang belajar selalu terdapat suatu alat pengatur internal yang dapat mengontrol
motivasinya serta menetukan sampai sejauh mana dan dalam bentuk apa seseorang
akan bertindak dalam suatau situasi tertentu.
d) Pengetahuan tentang hasil yang
diperoleh di dalam proses belajar merupakan faktor penting yang berfungsi
sebagai pengontrol.
4. Teori Instruksional Berdasarkan
Analisis Tugas
Dalam teori ini dianjurkan agar dosen mengadakan analisis tugas (task
analysis) secara sitematik menganai tugas-tugas yang harus dilakuka mahasiswa
di dalam latihan atau situasi pendidikan, yang kemudian disusun secara hirarkis
atau parallel tergantung dari urutan tugas-tugas dalam usaha untuk mencapai
tujuan.
5. Teori Instruksional Berdasarkan
Psikologi Humanistik
Teori instruksional ini didasarkan lebih pada teori kepribadian dan
psikoterapi daripada suatu teori belajar. Pada ahli dibidang ini berpendapat
bahwa pengalaman emosional dan karekterisk khusus seseorang perlu diperhatikan
di dalam penyusunan teori instruksional. Di samping itu perlu diperhatikan pula
aktualisasi diri, pemahaman diri, serta realisasi diri orang yang belajar.